Artikel dan Penyuluhan

ANTIGEN H5N1 Inspektur Antibodi

Invention: Inspektur Antibodi

Research: Antigen AI H5N1 Standar sebagai Rujukan I untuk Monitoring Titer Antibodi Hasil Vaksinasi AI di Industri Peternakan Ayam

Inventor: Retno D. SoejoedonoSri Murtini, Kamalludin Zarkasie, I Wayan Teguh Wibawan

Vaksinasi adalah strategi yang dipilih pemerintah sebagai salah satu cara pengendalian flu burung di Indonesia, diharapkan mampu menginduksi antibodi protektif terhadap virus flu burung penantang yang homolog. Sayangnya virus flu burung sejak tahun 2003 hingga 2011 mengarah kepada perubahan sifat biologis yang sangat nyata. Hal ini mengakibatkan vaksin flu burung yang beredar secara komersial di Indonesia beberapa dalam bentuk “cocktail” atau polivalen.

Inovasi ini berkaitan dengan pembuatan dan standarisasi antigen AI H5N1 komersial untuk memonitor titer antibodi hasil vaksinasi flu burung di industry peternakan ayam. Hasilnya adalah antigen virus flu burung subtype H5N1 yang representative digunakan pada uji HI (uji serologi) adalah antigen Legok 2004.

Inovasi ini berpotensi diaplikasikan untuk memonitor titer antibodi hasil vaksinasi AI di industri-industri peternakan ayam.

Sumber: Buku 104 Inovasi Indonesia 2012. Business Innovation Center.

 

Download pdf: iphk.fkh.ipb.ac.id-ANTIGEN H5N1 Inspektur Antibodi

Kolera Unggas Akibat Infeksi Pasteurella multocida

Kolera Unggas Akibat Infeksi Pasteurella multocida

(Dordia A. Rotinsulu)

 

Download file pdf: iphk.fkh.ipb.ac.id-Kolera Unggas Akibat Infeksi Pasteurella multocida

Penyakit kolera pada unggas (Fowl cholera) di Indonesia pertama kali terjadi pada tahun 1972 yang ditandai dengan wabah kolera pada ayam dan bebek dengan angka mortalitas antara 23-60% (Mariana dan Hirst 2000). Wabah yang terjadi menyebar di seluruh Indonesia, antara lain seperti yang terjadi pada ayam broiler di Aceh (Zainuddin 2014), dan bebek di Brebes (Ariyanti dan Supar 2008). Kematian akibat infeksi Pasteurella multocida dilaporkan pada peternakan itik intensif mencapai 62% dari populasi 1400 ekor (Ariyanti dan Supar 2008).

Kolera unggas perlu mendapatkan perhatian yang serius karena merupakan penyakit pre-akut yang sangat infeksius dan menimbulkan kerugian ekonomi yang tinggi (Shivachandra et al. 2006, Balakrishnan dan Roy 2012). Masa inkubasi penyakit bervariasi dari beberapa jam sampai beberapa hari. Pada infeksi pertama kali angka morbiditas bisa mencapai 60-70%, sedangkan angka mortalitas mencapai 40-50% (Zainuddin 2014).

 Pasteurella multocida

Penyebab penyakit kolera pada unggas yaitu bakteri Pasteurella multocida. Pasteurella multocida adalah bakteri gram negatif tunggal atau berpasangan dengan bentuk batang pendek atau kokoid. Berdasarkan perbedaan dalam kapsular polisakarida, Carter (1955) membagi Pasteurella multocida menjadi 5 tipe yaitu A, B, D, E, dan F. Sedangkan berdasarkan perbedaan dalam LPS, Heddleston et al. (1972) serta Namioka dan Murata (1961) membagi P. multocida menjadi 16 somatik tipe (1-16). Serotipe Pasteurella merupakan gabungan dari keduanya. Pasteurella yang menyerang pada unggas seringkali diketahui merupakan P. multocida tipe A.

Pasteurella multocida dapat diisolasi dari organ visceral seperti paru-paru, hati dan limpa, sumsum tulang, gonad atau darah jantung unggas atau dari eksudat caseous kronis lesi unggas yang mengalami kolera unggas. Media isolasi yang dapat digunakan yaitu dextrose starch agar, blood agar, dan trypticase–soy agar (OIE 2015) Pada media isolasi, karakter koloninya yaitu berdiameter berkisar antara 1 sampai 3 mm setelah 18-24 jam inkubasi, bentuk koloni diskrit, melingkar, cembung, tembus, dan butyraceous. Pada pewarnaan tampak sel cocoid atau pendek berbentuk batang, berukuran 0,2-0,4 × 0,6-2,5 µm , Gram negatif, dan umumnya tunggal atau berpasangan. Pewarnaan bipolar dapat diamati dengan Pewarnaan Wright atau Giemsa. Pewarnaan dapat dilakukan pada preparat ulas jaringan, seperti darah, hati, atau limpa (OIE 2015).

 400px-Pasteurella microbewiki.kenyon.eduGambar: Bakteri Pasteurella multocida (Sumber: microbewiki.kenyon.edu)

 

Penularan

Unggas dapat terinfeksi P. multocida setelah ada kontak langsung antara ayam sehat dengan ayam sakit atau karier yang telah sembuh. Kolera juga dapat ditularkan melalui pakan, minuman, peralatan, petugas kandang, tanah maupun hewan pengerat atau burung liar. Namun yang memegang peranan penting dalam menyebarkan penyakit ini adalah burung liar migran yang berpindah tempat tanpa ada batasan negara.

 

Gejala Klinis dan Lesio Patologi Anatom

Gejala klinis dari penyakit kolera unggas terjadi dalam beberapa tipe yaitu tipe akut, sub akut dan kronis. Gejala klinis tipe akut sering terjadi beberapa jam sebelum kematian dan tidak ditemukan gejala sebelumnya. Tipe sub akut sering ditandai dengan demam, bulu rontok, terdapat discharge berlebihan dari mulut dan hidung, penurunan produksi telur, peningkatan laju respirasi, serta sianosis pada pial dan jengger dan disertai diare kehijauan. Tipe kronis terjadi pada unggas yang bertahan dari infeksi akut. Gejalanya ditandai dengan infeksi lokal, pembengkakan pada pial, depresi, kesulitan bernapas, hewan terlihat memutar leher ke satu sisi dan mengalami kepincangan (Vegad 2007; Akhtar et al. 2016).poultrydisease.irGejala klinis Kolera Unggas: kebengkakan pada pial (Sumber: www.poultrydisease.ir)

 

Manifestasi gejala klinis dan lesio postmortem akibat infeksi Pasteurella multocida pada unggas antara lain septisemia, hemoragik petechiae, kongesti, pembesaran limpa dan hati, multifokal hepatik, splenik nekrosis dan pneumonia fibrinosa. Infeksi yang kronis menunjukkan adanya lokalisasi fibrinopurulen (nanah), nekrosis pada daerah kepala atau sinus hidung dan adanya pembengkakan kepala (OIE 2015).

Kolera unggas_nekrosa hati www.poultyrdisease.irGambar: Nekrosa hati akibat kolera unggas (Sumber: www.poultrydisease.ir)

 

Pencegahan dan Pengobatan

Pengobatan penyakit kolera unggas hampir tidak terlalu efektif dilakukan. Pengobatan hanya akan menurunkan tingkat kematian namun tidak akan menghentikan ayam dari penyakit. Ayam akan tetap membawa bakteri tersebut dan apabila pengobatan dihentikan besar kemungkinan penyakit akan berulang dan berujung pada kematian. Pengobatan mungkin dilakukan dengan terlebih dahulu menguji sensitifitas bakteri dalam agen terhadap antibiotik mengingat bahwa bakteri ini telah banyak berkembang menjadi resisten terhadap antibiotik. Namun cara terbaik dalam menghentikan rantai penyakit adalah dengan melakukan depopulasi, hingga desinfeksi dan pengistirahatan kandang (Christensen 2000).

Pencegahan dapat dilakukan dengan memperhatikan sanitasi kandang dan vaksinasi yang tepat. Bakterin komersial yang terdapat di Indonesia diproduksi dari P. multocida strain referensi X-73, P-1059 dan P-1662, atau strain lainnya dari negara produsen vaksin (Mariana dan Hirst 2000). Penggunaan vaksin dari isolat referensi dan luar negeri telah digunakan, namun dalam beberapa kasus masih ditemukan outbreak kolera unggas (Jabbri dan Jula 2005).

 

DAFTAR PUSTAKA

Akhtar M, Rahman T, Ara MS, Rahman M, Nazir MNH, Ahmed S, Hossen L, Rahman B. 2016. Isolation of Pasteurella multocida from chickens, preparation of formalin killed fowl cholera vaccine, and determination of efficacy in experimental chickens. J of Advanced Vet and Anim Research. 3 (1): 45-50.

Ariyanti T, Supar. 2008. Kholera unggas dan prospek pengendaliannya dengan vaksin Pasteurella multocida isolat lokal. Wartazoa. 18(1): 18-24.

Balakrishnan G dan P Roy. 2012. Isolation, identification and Antibiogram of Pasteurella multocida isolates of avian origin. Tamilnadu J. Veterinary & Animal Sciences 8 (4): 199-202.

Christensen JP. 2013. Overview of Fowl Cholerae [internet] tersedia pada: http://www.merckvetmanual.com/mvm/poultry/fowl_cholera/overview_of_fowl_cholera.html (Diakses tanggal 16 Agustus 2016).

Jabbri AR, Jula GRM. 2005. Fowl cholera: Evaluation of a Trivalent Pasteurella multocida Vaccine Consisted of Serotypes 1, 3 and 4. Arch. Razi Ins. (59): 103-111

Mariana S, Hirst R. 2000. The immunogenicity and pathogenicity of Pasteurella multocida isolated from poultry in Indonesia. Veterinary Microbiology. 72(2000):27-36.

[OIE] Office International des Epizooties. 2015. OIE Terrestrial Manual 2015. http://www.oie.int/fileadmin/Home/eng/Health_standards/tahm/2.03.09_FOWL_CHOLERA.pdf

Shivachandra SB, A A Kumar, R Gautam, S Joseph, P Chaudhuri, M K Saxena, S K Srivastava & Nem Singh. 2006. Detection of Pasteurella multocida in experimentally infected embryonated chicken eggs by PCR assay. Indian Journal of Experimental Biology44: 321-324.

Vegad JL. 2007. A Colour Atlas of Poultry Diseases: An Aid to Farmer and Poultry Professionals. Edisi ke-2. Charbagh (IN): International Book Distributing Co.

Zainuddin. 2014. Studi kasus kolera unggas ayam broiler pada usaha ternak masyarakat di Banda Aceh secara patologi. Jurnal Medika Veterinaria. 8(1): 56-59.

Penyuluhan Penyakit Rabies

88407787121-anjing_gila Rabies atau Penyakit Anjing Gila merupakan penyakit mematikan yang disebabkan oleh virus (Rhabdovirus) yang menyerang sistem saraf pusat (SSP) hewan mamalia termasuk manusia. Case fatality rate (CFR) akibat Rabies yang sangat tinggi. Di seluruh dunia, Rabies membunuh 50.000 orang dan jutaan hewan setiap tahun.

Pengendalian terhadap penyakit rabies yang paling utama yaitu pencegahan penyakit pada manusia dan pengendalian atau eradikasi penyakit pada hewan. Guna memberikan penyuluhan kepada masyarakat maka masyarakat dapat mengakses informasi mengenai Rabies yang tertaut sebagai berikut : Penyuluhan Penyakit Rabies.

(Dordia A. Rotinsulu)